Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
CEX (Centralized Exchange) dikelola oleh perusahaan atau operator yang memfasilitasi perdagangan aset kripto.
DEX (Decentralized Exchange) memungkinkan pengguna menukar aset melalui protokol terdesentralisasi, umumnya menggunakan smart contract dan wallet pribadi.
CEX cenderung lebih mudah digunakan pemula, sedangkan DEX memberi pengguna kendali lebih langsung atas wallet dan transaksi.
Keduanya memiliki risiko berbeda. CEX menghadapi risiko kustodian dan operasional, sementara DEX memiliki risiko smart contract, likuiditas, dan kesalahan transaksi.
Saat ingin membeli Bitcoin atau menukar satu token dengan token lain, kamu akan menemukan berbagai platform dengan mekanisme yang berbeda. Dua jenis yang umum dikenal adalah centralized exchange (CEX) dan decentralized exchange (DEX).
Keduanya memfasilitasi perdagangan aset kripto, tetapi berbeda dalam cara transaksi dijalankan, siapa yang mengelola layanan, dan bagaimana pengguna mengendalikan asetnya. Memahami perbedaan ini membantu kamu memilih platform sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti anggapan bahwa salah satunya pasti lebih baik.
CEX adalah bursa kripto yang dioperasikan oleh perusahaan atau entitas tertentu. Operator menyediakan sistem untuk mempertemukan transaksi, mengelola akun pengguna, dan menjalankan layanan perdagangan.
Pada CEX yang menggunakan model kustodian, aset pengguna dapat disimpan atau dikelola oleh platform. Pengguna biasanya masuk menggunakan akun, memilih pasangan perdagangan, lalu memasang pesanan beli atau jual melalui antarmuka yang disediakan.
Contohnya, seseorang yang ingin membeli Bitcoin dengan rupiah dapat menggunakan pasar BTC/IDR jika pasangan tersebut tersedia di platform pilihannya.
Untuk memahami cara memperdagangkan Bitcoin menggunakan rupiah melalui pasar Spot, kamu dapat melihat pasangan BTC/IDR di Bybit Indonesia.
DEX adalah protokol pertukaran aset yang memungkinkan transaksi dijalankan menggunakan smart contract atau mekanisme terdesentralisasi lainnya. Pengguna umumnya menghubungkan wallet pribadi dan menyetujui transaksi secara langsung.
Sebagian DEX menggunakan automated market maker (AMM), yaitu mekanisme yang mengandalkan kumpulan likuiditas untuk memfasilitasi pertukaran token. DEX lainnya dapat menggunakan mekanisme berbeda, termasuk sistem berbasis order book.
Tidak seperti perdagangan melalui akun kustodian, pengguna DEX biasanya bertanggung jawab langsung atas keamanan wallet dan persetujuan transaksi. Namun, tingkat desentralisasi setiap protokol bisa berbeda. Antarmuka, pengembang, penyedia likuiditas, atau infrastruktur tertentu masih dapat berperan dalam pengoperasiannya.
Pada CEX, perdagangan umumnya difasilitasi oleh sistem yang dikelola operator. Pada pasar berbasis order book, pembeli memasukkan penawaran harga dan penjual memasukkan harga jual. Transaksi terjadi ketika pesanan dapat dipertemukan.
Sementara itu, DEX dapat menjalankan pertukaran melalui smart contract. Pada DEX berbasis AMM, harga dipengaruhi oleh kondisi kumpulan likuiditas dan ukuran transaksi. Pengguna perlu memperhatikan estimasi hasil pertukaran sebelum menyetujui transaksi.
Perbedaan mekanisme ini berarti pengalaman transaksi dan cara pembentukan harga tidak selalu sama, meskipun aset yang diperdagangkan identik.
Pada CEX kustodian, pengguna bergantung pada sistem platform untuk mengelola aset yang disimpan di akun. Model ini memudahkan penggunaan layanan, tetapi menimbulkan risiko jika terjadi masalah operasional, keamanan, atau akses akun.
Pada DEX, pengguna umumnya mengendalikan wallet dan menyetujui transaksi sendiri. Kendali tersebut memberikan keleluasaan, tetapi juga berarti pengguna harus menjaga private key atau seed phrase serta memeriksa transaksi dengan cermat.
Kendali langsung bukan jaminan keamanan. Jika seed phrase hilang atau pengguna menyetujui transaksi berbahaya, aset bisa sulit atau tidak mungkin dipulihkan.
CEX biasanya menyediakan proses pendaftaran akun, tampilan perdagangan, dan panduan yang membantu pengguna memulai. Beberapa platform juga menawarkan fitur konversi aset agar pengguna dapat menukar aset tanpa harus mengatur transaksi melalui order book.
DEX membutuhkan pemahaman tambahan mengenai wallet, jaringan blockchain, biaya transaksi, dan persetujuan smart contract. Pengguna juga perlu memastikan token yang dipilih benar-benar berasal dari kontrak yang sesuai.
DEX bisa menyediakan akses ke berbagai token yang belum tersedia di CEX. Namun, ketersediaan token bukan bukti bahwa proyek tersebut terpercaya. Token dengan likuiditas rendah, kontrak berbahaya, atau informasi proyek yang tidak jelas dapat menimbulkan kerugian.
Biaya transaksi pada CEX dapat mencakup biaya perdagangan serta biaya penarikan atau layanan lain, sesuai ketentuan platform. Harga dan biaya akhir bergantung pada pasangan perdagangan dan jenis pesanan yang digunakan.
Pada DEX, pengguna dapat menghadapi biaya jaringan atau gas fee, biaya protokol, spread, dan slippage. Slippage adalah perbedaan antara harga yang diperkirakan saat transaksi dibuat dan harga eksekusi yang akhirnya diperoleh. Dampaknya dapat lebih besar pada transaksi besar atau pasar dengan likuiditas rendah.
Karena itu, tidak tepat jika CEX selalu dianggap lebih murah atau DEX selalu dianggap memiliki harga lebih baik. Bandingkan estimasi biaya dan jumlah aset yang akan diterima sebelum melakukan transaksi.
Risiko kedua jenis bursa tidak sama, sehingga cara mengevaluasinya pun perlu berbeda.
Risiko pada CEX meliputi gangguan layanan, masalah keamanan, risiko kustodian, pembatasan akses akun, dan ketentuan penarikan. Pengguna perlu memahami kebijakan platform serta memastikan layanan yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan wilayahnya.
Risiko pada DEX mencakup kerentanan smart contract, token palsu, penipuan melalui permintaan persetujuan wallet, likuiditas rendah, serta kesalahan memilih jaringan atau alamat kontrak. Transaksi blockchain yang sudah dikonfirmasi umumnya sulit atau tidak dapat dibatalkan.
Ada pula risiko pasar yang berlaku pada keduanya. Harga kripto dapat berubah tajam, dan pengguna tetap bisa mengalami kerugian meskipun platform bekerja sebagaimana mestinya.
Pilihan yang tepat bergantung pada pengalaman dan tujuan transaksi.
CEX dapat menjadi titik awal yang lebih praktis bagi pemula yang ingin mempelajari perdagangan melalui akun dan antarmuka yang terstruktur. Sebelum memilih platform, periksa keamanan akun, biaya, pasangan aset yang tersedia, ketentuan penarikan, serta status dan legalitas layanan yang relevan di Indonesia.
DEX dapat dipertimbangkan jika kamu sudah memahami penggunaan wallet mandiri, jaringan blockchain, biaya transaksi, dan risiko smart contract. Jangan hanya memilih DEX karena menawarkan banyak token atau menjanjikan hasil tertentu.
Apapun pilihannya, evaluasi mekanisme transaksi dan risiko sebelum menyetor atau menukar aset. Untuk DEX, periksa alamat kontrak token, jaringan, jumlah yang akan diterima, dan izin yang diminta wallet. Untuk CEX, pahami bagaimana aset disimpan, bagaimana transaksi diproses, dan apa saja ketentuan layanannya.
Bagi pengguna yang ingin memahami perdagangan melalui platform terpusat, penting untuk membedakan perdagangan Spot, konversi aset, dan fitur pertukaran. Ketiganya dapat memiliki mekanisme, informasi harga, dan ketentuan yang berbeda.
Jika ingin melihat estimasi pertukaran Bitcoin ke rupiah, kamu dapat mempelajari fitur Convert BTC ke IDR di Bybit Indonesia.
Untuk mempelajari pilihan fitur pertukaran aset yang tersedia di platform, kunjungi halaman Exchange Bybit Indonesia.
CEX dan DEX bukan sekadar dua nama untuk layanan yang sama. Perbedaan mendasarnya terletak pada pengelolaan layanan, mekanisme transaksi, dan tanggung jawab pengguna terhadap aset. Dengan memahami aspek tersebut, kamu dapat memilih cara bertransaksi yang sesuai dengan kemampuan teknis, kebutuhan, serta toleransi risiko.