Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Layer 1 adalah blockchain dasar yang memvalidasi transaksi dan menjalankan mekanisme konsensus jaringan.
Layer 2 dibangun di atas blockchain dasar untuk membantu memproses transaksi dengan lebih efisien.
Bitcoin, Ethereum, dan Solana merupakan contoh Layer 1, sedangkan Arbitrum, Optimism, dan Base merupakan contoh Layer 2 Ethereum.
Layer 2 dapat membantu mengurangi biaya dan mempercepat transaksi, tetapi manfaat serta risiko setiap jaringan berbeda.
Bayangkan sebuah jalan tol yang semakin padat karena jumlah kendaraan terus bertambah. Menambah kapasitas jalan utama bisa membantu, tetapi membangun jalur tambahan untuk menangani sebagian arus kendaraan juga dapat mengurangi kepadatan.
Tantangan serupa terjadi pada blockchain. Ketika semakin banyak orang mengirim aset, memperdagangkan kripto, atau menggunakan aplikasi terdesentralisasi, kapasitas jaringan bisa menjadi terbatas. Dampaknya dapat berupa biaya transaksi yang meningkat dan waktu pemrosesan yang lebih lama.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pengembang menggunakan berbagai pendekatan skalabilitas, termasuk Layer 1 dan Layer 2. Keduanya memiliki fungsi berbeda dalam membantu blockchain menangani aktivitas yang terus berkembang.
Skalabilitas adalah kemampuan jaringan untuk menangani peningkatan aktivitas tanpa membuat biaya dan waktu pemrosesan menjadi terlalu tinggi bagi pengguna.
Blockchain memiliki sumber daya pemrosesan yang terbatas. Bergantung pada desainnya, jaringan perlu memvalidasi transaksi, menyimpan data, dan mencapai kesepakatan mengenai keadaan blockchain. Ketika permintaan melebihi kapasitas yang tersedia, pengguna bisa bersaing untuk mendapatkan ruang pemrosesan.
Pada jaringan yang menggunakan biaya transaksi berbasis permintaan, kondisi ini dapat mendorong biaya meningkat. Transaksi juga bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk diproses atau dikonfirmasi.
Masalah tersebut menjadi semakin penting ketika blockchain digunakan bukan hanya untuk mengirim aset, tetapi juga untuk menjalankan smart contract, aplikasi keuangan terdesentralisasi, gim blockchain, dan berbagai layanan Web3.
Karena itu, meningkatkan jumlah transaksi yang dapat diproses bukan sekadar persoalan kecepatan. Solusi skalabilitas juga perlu mempertimbangkan biaya, keamanan, dan tingkat desentralisasi jaringan.
Layer 1 adalah lapisan dasar sebuah blockchain. Jaringan ini memiliki mekanisme untuk memvalidasi transaksi dan menentukan transaksi mana yang masuk ke dalam catatan blockchain.
Bitcoin, misalnya, menggunakan mekanisme konsensus Proof of Work. Ethereum menggunakan Proof of Stake, sedangkan Solana memiliki desain protokol dan mekanisme konsensus tersendiri.
Ketiganya merupakan Layer 1, tetapi cara kerja dan karakteristiknya tidak identik.
Layer 1 dapat meningkatkan kapasitas melalui perubahan pada protokol atau cara jaringan memproses transaksi. Namun, perubahan tersebut perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap keamanan dan desentralisasi. Jika persyaratan menjalankan node menjadi terlalu berat, misalnya, partisipasi dalam jaringan dapat menjadi lebih sulit bagi sebagian pengguna.
Dengan demikian, meningkatkan kapasitas Layer 1 bukan hanya soal membuat jaringan memproses transaksi sebanyak mungkin. Perubahan harus tetap sesuai dengan tujuan dan desain blockchain tersebut.
Layer 2 adalah solusi yang dibangun di atas blockchain dasar untuk membantu menangani aktivitas transaksi secara lebih efisien. Ethereum menjadi salah satu contoh utama karena memiliki ekosistem Layer 2 yang luas.
Sejumlah solusi Layer 2 memproses transaksi di luar Layer 1, kemudian mengirimkan data atau bukti tertentu ke jaringan dasar. Dengan cara ini, tidak semua aktivitas perlu diproses secara individual langsung di Layer 1.
Arbitrum, Optimism, dan Base merupakan contoh jaringan Layer 2 yang berkaitan dengan ekosistem Ethereum. Ketiganya dirancang untuk mendukung aktivitas aplikasi dan transaksi dengan biaya yang berpotensi lebih rendah dibandingkan penggunaan Ethereum secara langsung, bergantung pada kondisi jaringan dan jenis transaksi.
Meski begitu, Layer 2 bukan satu teknologi tunggal. Banyak solusi menggunakan pendekatan rollup, yang menggabungkan transaksi dan memanfaatkan Ethereum untuk aspek tertentu dari ketersediaan data atau penyelesaian transaksi.
Detail implementasinya berbeda. Mekanisme keamanan, peran sequencer, dan proses penarikan aset kembali ke Layer 1 perlu dinilai berdasarkan jaringan yang digunakan.
Layer 1 merupakan pondasi blockchain. Lapisan ini menjalankan mekanisme inti jaringan, seperti konsensus dan pencatatan transaksi.
Layer 2 berfokus pada peningkatan kapasitas atau efisiensi aktivitas tertentu dengan memanfaatkan Layer 1 sesuai desainnya. Karena itu, Layer 2 umumnya tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh fungsi blockchain dasar.
Transaksi langsung di Layer 1 dapat menjadi lebih mahal ketika permintaan ruang blok meningkat. Layer 2 dapat mengurangi biaya per transaksi dengan memproses aktivitas secara lebih efisien atau membagi biaya publikasi data ke jaringan dasar di antara banyak transaksi.
Namun, biaya di Layer 2 tidak selalu rendah. Pengguna tetap dapat menghadapi biaya jaringan, biaya pertukaran pada aplikasi, atau biaya lain sesuai layanan yang digunakan. Perbedaan biaya juga bergantung pada kondisi pasar dan aktivitas jaringan.
Begitu pula dengan kecepatan. Pengalaman transaksi dapat berbeda berdasarkan cara jaringan mengurutkan transaksi, memberikan konfirmasi, dan menyelesaikan hasilnya di Layer 1.
Layer 1 memiliki mekanisme konsensus dan model keamanannya sendiri. Sementara itu, Layer 2 dapat memanfaatkan keamanan Layer 1 untuk aspek tertentu, tetapi tingkat ketergantungan tersebut tidak sama pada setiap solusi.
Pengguna tetap perlu mempertimbangkan risiko smart contract, sequencer, bridge, dan mekanisme penarikan aset jika relevan. Gangguan pada komponen tertentu dapat mempengaruhi pengalaman transaksi meskipun blockchain dasarnya tetap beroperasi.
Penting juga membedakan Layer 2 dari sidechain. Sidechain memiliki mekanisme konsensus dan model keamanan tersendiri, sehingga tidak otomatis mewarisi keamanan blockchain utama dengan cara yang sama seperti desain Layer 2 tertentu.
Tidak. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.
Layer 1 menyediakan pondasi untuk konsensus dan pencatatan transaksi, sedangkan Layer 2 membantu meningkatkan kapasitas pemrosesan atau efisiensi aktivitas tertentu. Ekosistem dapat menggunakan keduanya agar lebih banyak aplikasi dan pengguna dapat bertransaksi tanpa sepenuhnya bergantung pada kapasitas pemrosesan langsung di jaringan dasar.
Selain Layer 2, pengembang juga mengeksplorasi pendekatan lain, termasuk peningkatan protokol Layer 1 dan desain blockchain yang berbeda. Tidak ada satu solusi yang otomatis cocok untuk seluruh kebutuhan.
Skalabilitas juga bukan satu-satunya ukuran kualitas blockchain. Kapasitas tinggi perlu diseimbangkan dengan keamanan, desentralisasi, biaya, dan kemudahan penggunaan.
Perbedaan jaringan menjadi penting ketika kamu mengirim aset atau menggunakan aplikasi blockchain. Aset dengan nama atau simbol yang sama dapat tersedia di beberapa jaringan, tetapi tidak berarti aset tersebut bisa dikirim langsung antarjaringan tanpa mekanisme yang sesuai.
Sebelum melakukan transfer, periksa jaringan asal dan tujuan, alamat penerima, serta biaya yang diperlukan. Jika menggunakan bridge untuk memindahkan aset antarjaringan, pahami mekanisme dan risiko layanan tersebut terlebih dahulu.
Di sisi lain, memahami jaringan tidak menggantikan kebutuhan untuk memeriksa detail perdagangan. Untuk memahami cara memperdagangkan Bitcoin menggunakan rupiah melalui pasar Spot, kamu dapat melihat pasangan BTC/IDR di Bybit Indonesia.
Jika ingin melihat estimasi pertukaran Bitcoin ke rupiah, kamu dapat mempelajari fitur Convert BTC ke IDR di Bybit Indonesia.
Untuk mempelajari pilihan fitur pertukaran aset yang tersedia di platform, kunjungi halaman Exchange Bybit Indonesia.
Memahami Layer 1 dan Layer 2 membantu kamu melihat bahwa transaksi kripto tidak hanya bergantung pada aset yang digunakan, tetapi juga pada jaringan yang memprosesnya. Sebelum memilih jaringan, pertimbangkan biaya, kompatibilitas, mekanisme keamanan, dan kebutuhan transaksi agar tidak salah mengirim aset atau mengeluarkan biaya yang tidak perlu.