Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Dua aset kripto bisa memiliki harga yang sama, misalnya Rp1.000 per token, tetapi memiliki potensi dan risiko yang sangat berbeda. Salah satunya mungkin memiliki suplai beredar yang terbatas, sementara yang lain masih memiliki banyak token yang akan dilepas ke pasar. Perbedaan ini dapat mempengaruhi nilai kepemilikan investor dan dinamika harga di masa mendatang.
Untuk memahami perbedaan tersebut, investor perlu mempelajari tokenomics crypto, yaitu cara sebuah proyek merancang suplai, distribusi, kegunaan, dan insentif tokennya.
Sebelum membeli token, beberapa hal penting yang perlu diperiksa adalah:
Suplai token: berapa banyak token yang sudah beredar dan berapa banyak yang berpotensi masuk ke pasar.
Distribusi token: siapa yang memegang token dan bagaimana alokasinya dibagi.
Market cap dan FDV: bagaimana valuasi proyek dihitung berdasarkan suplai yang berbeda.
Utilitas dan insentif: apakah token memiliki kegunaan yang jelas dan permintaan yang masuk akal.
Risiko dilusi: bagaimana penambahan suplai dapat mempengaruhi nilai kepemilikan token.
Tokenomics merupakan gabungan dari kata token dan economics. Istilah ini merujuk pada desain ekonomi sebuah token, termasuk jumlah token yang tersedia, cara token didistribusikan, fungsi token dalam ekosistem, serta mekanisme yang mempengaruhi suplai dan permintaannya.
Menurut Binance Research dalam pembahasannya tentang tokenomics, desain token merupakan salah satu aspek penting untuk memahami bagaimana suatu proyek kripto beroperasi dan menciptakan insentif bagi para pesertanya.
Tokenomics membantu investor menilai apakah struktur ekonomi sebuah proyek masuk akal. Namun, tokenomics yang terlihat menarik tidak otomatis membuat harga token naik. Harga tetap dipengaruhi oleh permintaan pasar, kondisi industri, persaingan, likuiditas, dan faktor eksternal lainnya.
Karena itu, analisis tokenomics sebaiknya digunakan untuk memahami risiko dan struktur sebuah proyek, bukan sebagai alat untuk memastikan keuntungan.
Jumlah token yang tersedia menjadi salah satu titik awal dalam analisis tokenomics. Namun, istilah suplai memiliki beberapa arti yang perlu dibedakan.
Circulating supply: jumlah token yang saat ini beredar dan tersedia di pasar.
Total supply: jumlah token yang sudah dibuat, dikurangi token yang telah dibakar secara permanen, sesuai definisi yang digunakan oleh proyek atau penyedia data.
Max supply: batas maksimum jumlah token yang dapat dibuat, jika proyek menetapkan batas tersebut.
Tidak semua token memiliki max supply. Beberapa proyek menggunakan mekanisme penerbitan token berkelanjutan, sehingga jumlah totalnya dapat bertambah seiring waktu.
Perbedaan antara suplai beredar dan total suplai penting karena token yang belum beredar bisa masuk ke pasar pada kemudian hari. Dampaknya bergantung pada siapa penerimanya, bagaimana token digunakan, dan apakah permintaan mampu menyerap tambahan suplai tersebut.
Misalnya, sebuah proyek memiliki total suplai satu miliar token, tetapi baru 200 juta yang beredar. Artinya, baru 20% dari total suplai tersebut yang beredar. Investor perlu mencari tahu bagaimana sisa token akan dialokasikan dan kapan token tersebut berpotensi dilepas.
Jika token baru masuk ke pasar tanpa pertumbuhan permintaan yang sebanding, tekanan jual dapat meningkat. Namun, penambahan suplai tidak selalu membuat harga turun karena penerima token belum tentu langsung menjualnya.
Untuk memeriksa data suplai, investor dapat menggunakan sumber seperti panduan CoinGecko tentang market cap dan suplai kripto, lalu membandingkannya dengan dokumentasi resmi proyek.
Harga per token saja tidak cukup untuk menilai besar atau kecilnya valuasi sebuah proyek. Investor juga perlu memperhatikan jumlah token yang beredar dan potensi suplai di masa depan.
Dua metrik yang sering digunakan adalah market capitalization atau market cap dan fully diluted valuation atau FDV.
Market cap dihitung dengan mengalikan harga token dengan jumlah token yang beredar.
Market cap = Harga token × Circulating supply
Sebagai contoh, token A memiliki harga Rp1.000 dengan 100 juta token yang beredar. Market cap-nya adalah Rp100 miliar.
Token B juga memiliki harga Rp1.000, tetapi memiliki 500 juta token yang beredar. Market cap-nya mencapai Rp500 miliar.
Walaupun harga per token keduanya sama, nilai pasar berdasarkan suplai beredarnya berbeda. Karena itu, membandingkan harga nominal saja dapat memberikan gambaran yang keliru.
FDV memperkirakan valuasi token jika seluruh suplai yang diperhitungkan dalam metrik tersebut sudah beredar, biasanya berdasarkan max supply atau asumsi suplai maksimum yang digunakan oleh penyedia data.
FDV = Harga token × Suplai maksimum yang digunakan dalam perhitungan
Misalnya, sebuah token memiliki harga Rp1.000 dan max supply satu miliar token. FDV-nya adalah Rp1 triliun. Jika market cap saat ini hanya Rp200 miliar, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa valuasi berdasarkan suplai maksimum jauh lebih besar daripada valuasi berdasarkan token yang sedang beredar.
FDV yang jauh lebih tinggi daripada market cap dapat menjadi alasan untuk memeriksa jadwal pelepasan token dan potensi dilusi. Namun, rasio tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa token pasti mengalami penurunan harga.
Untuk mengkonversi nilai USDT ke rupiah sebagai referensi perhitungan, Anda dapat menggunakan fitur konversi USDT ke IDR di Bybit Indonesia. Perlu diingat bahwa nilai konversi dapat berubah mengikuti harga dan kurs yang berlaku.
Jumlah suplai tidak menjelaskan siapa yang memiliki token. Distribusi token juga perlu diperiksa karena kepemilikan yang terkonsentrasi dapat menimbulkan risiko tersendiri.
Dalam dokumentasi proyek, investor biasanya dapat menemukan alokasi token untuk beberapa kelompok, seperti:
Tim pengembang dan pendiri.
Investor awal atau modal ventura.
Komunitas dan pengguna.
Dana pengembangan ekosistem.
Insentif staking atau penyedia likuiditas.
Treasury atau cadangan proyek.
Persentase alokasi perlu dibaca bersama ketentuan vesting dan jadwal pelepasan token. Alokasi besar untuk tim atau investor awal tidak otomatis menjadi masalah, tetapi investor perlu memahami kapan token tersebut dapat dipindahkan atau dijual.
Kepemilikan yang terkonsentrasi juga dapat mempengaruhi likuiditas. Jika sejumlah kecil pemegang menguasai sebagian besar suplai yang beredar, transaksi besar dari mereka berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga.
Riset akademik tentang pasar kripto, termasuk penelitian yang tersedia melalui SSRN, dapat menjadi bahan tambahan untuk memahami hubungan antara struktur kepemilikan dan dinamika pasar. Meski demikian, temuan penelitian perlu dibaca sesuai konteks, periode data, dan metode yang digunakan.
Untuk menilai distribusi dengan lebih baik, periksa whitepaper, dokumentasi token, informasi vesting, dan data blockchain jika tersedia. Jangan hanya mengandalkan diagram alokasi tanpa memeriksa ketentuan di baliknya.
Vesting adalah mekanisme yang mengatur kapan token yang dialokasikan kepada kelompok tertentu dapat diakses. Tujuannya dapat mencakup penyelarasan insentif jangka panjang dan pembatasan akses langsung terhadap seluruh alokasi.
Saat mengevaluasi vesting, periksa beberapa hal berikut:
Periode penguncian: apakah ada masa ketika token belum dapat diakses.
Jadwal pelepasan: apakah token dilepas sekaligus atau secara bertahap.
Penerima token: apakah token diberikan kepada tim, investor awal, komunitas, atau kelompok lain.
Proporsi terhadap suplai beredar: seberapa besar token yang akan dilepas dibandingkan jumlah yang sudah beredar.
Jadwal pelepasan token dapat membantu memperkirakan kapan suplai berpotensi bertambah. Namun, tanggal pelepasan bukan prediksi langsung mengenai pergerakan harga. Dampaknya bergantung pada ekspektasi pasar, perilaku penerima token, dan permintaan saat token tersebut tersedia.
Karena itu, investor sebaiknya membandingkan jadwal vesting dengan perkembangan proyek dan aktivitas pasarnya, bukan menilai risiko hanya dari tanggal unlock.
Tokenomics yang baik tidak hanya membahas jumlah token. Investor juga perlu memahami alasan token tersebut dibutuhkan dalam ekosistem proyek.
Sebuah token dapat memiliki beberapa fungsi, misalnya:
Pembayaran: digunakan untuk membayar layanan atau biaya transaksi dalam ekosistem.
Akses layanan: diperlukan untuk menggunakan fitur atau produk tertentu.
Staking: digunakan dalam mekanisme partisipasi jaringan atau untuk memperoleh insentif sesuai ketentuan protokol.
Governance: memberikan hak suara dalam keputusan tertentu.
Insentif ekosistem: diberikan kepada pengguna atau kontributor yang memenuhi persyaratan.
Standar seperti ERC-20 di jaringan Ethereum menjelaskan fungsi teknis umum token yang dapat dipertukarkan. Namun, standar teknis tidak menjamin bahwa token memiliki permintaan ekonomi atau nilai investasi.
Pertanyaan pentingnya adalah apakah fungsi token benar-benar dibutuhkan. Jika pengguna dapat memakai layanan tanpa memiliki token, investor perlu memahami apa yang mendorong permintaan terhadap token tersebut.
Perhatikan juga sumber imbal hasil yang ditawarkan. Jika proyek memberikan insentif, cari tahu apakah insentif berasal dari aktivitas ekonomi yang berkelanjutan, biaya layanan, penerbitan token baru, atau sumber lainnya. Imbal hasil yang sebagian besar bergantung pada penerbitan token tambahan dapat meningkatkan suplai dan menimbulkan tekanan dilusi.
Token dengan desain ekonomi yang menarik tetap dapat sulit diperdagangkan jika likuiditasnya rendah. Likuiditas menggambarkan seberapa mudah aset dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar.
Beberapa indikator yang dapat diperiksa meliputi:
Volume perdagangan dalam periode tertentu.
Kedalaman order book pada pasangan perdagangan yang relevan.
Selisih antara harga beli dan harga jual (bid-ask spread).
Jumlah pasar atau bursa tempat token diperdagangkan.
Konsentrasi volume pada satu platform atau pasangan perdagangan.
Volume tinggi saja belum tentu menunjukkan likuiditas yang kuat. Periksa juga kedalaman pasar dan spread karena keduanya dapat memengaruhi harga eksekusi transaksi.
Sebagai salah satu referensi untuk melihat perdagangan aset terhadap rupiah, Anda dapat memeriksa pasangan spot USDT/IDR di Bybit Indonesia. Data pasangan perdagangan tertentu tidak menggambarkan likuiditas seluruh pasar kripto, sehingga tetap perlu dibandingkan dengan sumber dan pasar lain yang relevan.
Sebelum mengambil keputusan, gunakan daftar pemeriksaan berikut untuk menilai struktur ekonomi token secara lebih sistematis.
Suplai: berapa circulating supply, total supply, dan max supply-nya?
Dilusi: berapa banyak token yang belum beredar dan kapan token tersebut dapat dilepas?
Valuasi: bagaimana market cap dibandingkan dengan FDV?
Distribusi: siapa yang menerima alokasi terbesar dan bagaimana ketentuan vesting-nya?
Utilitas: apakah token memiliki fungsi yang jelas dan dibutuhkan?
Insentif: dari mana imbal hasil atau penghargaan pengguna berasal?
Likuiditas: apakah volume, kedalaman pasar, dan spread mendukung transaksi?
Transparansi: apakah dokumentasi proyek menjelaskan alokasi, suplai, dan mekanisme penerbitan token dengan jelas?
Jika ingin menukar satu aset kripto dengan aset lainnya, Anda juga dapat mempelajari fitur konversi aset di Bybit Indonesia untuk melihat opsi penukaran yang tersedia. Pastikan untuk memeriksa aset yang didukung, nilai konversi, dan ketentuan transaksi sebelum menggunakannya.
Checklist ini bukan sistem penilaian yang menjamin keuntungan. Fungsinya adalah membantu investor menemukan informasi yang perlu diperiksa lebih lanjut sebelum mempertimbangkan suatu aset.
Beberapa karakteristik tokenomics layak mendapat perhatian lebih karena dapat menyulitkan investor dalam menilai risiko.
Informasi suplai tidak konsisten. Perbedaan data antara whitepaper, dokumentasi proyek, dan penyedia data pasar perlu diklarifikasi sebelum mengambil keputusan.
Alokasi besar tanpa penjelasan memadai. Jika sebagian besar token dialokasikan kepada kelompok tertentu tanpa informasi yang jelas tentang penggunaan dan jadwal pelepasannya, investor akan kesulitan menilai risiko distribusi.
FDV jauh di atas market cap tanpa penjelasan yang memadai. Perbedaan ini dapat menandakan potensi penambahan suplai yang perlu ditelusuri lebih lanjut, tetapi bukan bukti bahwa harga pasti turun.
Kegunaan token tidak jelas. Jika proyek tidak menjelaskan mengapa token diperlukan atau bagaimana token mendukung aktivitas ekosistem, dasar permintaannya perlu dipertanyakan.
Insentif bergantung pada penerbitan token baru. Mekanisme seperti ini perlu diperiksa untuk memahami apakah pertumbuhan suplai sebanding dengan permintaan dan aktivitas ekonomi yang dihasilkan.
Satu indikator saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah proyek buruk atau tidak layak dipertimbangkan. Nilai setiap temuan berdasarkan dokumentasi, data yang tersedia, dan konteks proyek secara keseluruhan.
Tokenomics membantu investor memahami struktur suplai, kepemilikan, insentif, dan potensi dilusi suatu aset kripto. Analisis ini juga membantu membedakan token yang hanya memiliki harga nominal rendah dari token yang memiliki valuasi dan struktur suplai yang lebih masuk akal.
Namun, tokenomics hanya salah satu bagian dari analisis. Perkembangan produk, adopsi pengguna, kondisi pasar, keamanan teknologi, regulasi, dan sentimen investor juga dapat mempengaruhi harga.
Sebelum membeli token, pastikan Anda memahami bagaimana token tersebut dibuat, siapa yang menguasainya, bagaimana suplai dapat berubah, dan mengapa token dibutuhkan. Keputusan yang didasarkan pada informasi tersebut lebih terukur daripada hanya mengikuti harga atau tren pasar.