Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Indonesia turun dari peringkat 3 ke peringkat 7 bukan karena adopsi crypto melemah, melainkan karena Chainalysis mengubah cara mereka menghitungnya. Pada 2 September 2025, Chainalysis merilis Global Crypto Adoption Index tahunan keenam, dan dari 151 negara yang diukur, Indonesia menempati posisi ketujuh dunia. Setahun sebelumnya kita ada di peringkat 3. Angka yang turun ini sekilas terlihat seperti kemunduran, padahal yang berubah adalah alat ukurnya, bukan aktivitas orang Indonesia di pasar kripto.
Ini penting dipahami sejak awal, karena banyak yang salah membaca laporan ini sebagai sinyal bahwa minat crypto di Indonesia sedang menyusut. Kenyataannya justru sebaliknya. Aktivitas ritel dan DeFi di Indonesia masih termasuk yang terkuat di dunia. Yang terjadi adalah metodologi Chainalysis kini memberi bobot lebih besar pada satu jenis aktivitas yang secara struktural kurang dominan di Indonesia.
Ada dua perubahan besar pada metodologi 2025. Pertama, Chainalysis menghapus sub-indeks retail DeFi, dengan alasan bahwa aktivitas DeFi kini lebih didominasi pengguna profesional ketimbang trader kecil, sehingga dianggap kurang mewakili perilaku pengguna sehari-hari. Kedua, mereka menambahkan sub-indeks baru: aktivitas institusional, yang secara khusus mengukur transfer bernilai di atas 1 juta dolar AS melalui bursa terpusat.
Dua perubahan ini bekerja saling memperkuat, dan keduanya kebetulan mengurangi bobot dari hal-hal yang justru menjadi kekuatan Indonesia. Negara dengan volume transaksi institusional besar seperti Amerika Serikat, yang didorong oleh produk seperti spot Bitcoin ETF, mendapat dorongan signifikan dari metrik baru ini. Sementara Indonesia, yang kekuatannya ada di partisipasi ritel akar rumput dan DeFi, kehilangan sebagian bobot yang sebelumnya mengangkat posisinya. Hasilnya, kontribusi Indonesia terlihat lebih kecil di atas kertas, meski aktivitas nyatanya tetap masif.
Global Crypto Adoption Index adalah laporan tahunan Chainalysis yang memeringkat negara berdasarkan seberapa luas dan intens masyarakat biasa serta institusi menggunakan crypto, bukan berdasarkan kapitalisasi pasar atau kekayaan negara. Artinya, indeks ini tidak mengukur negara mana yang punya uang paling banyak di crypto, melainkan negara mana yang penduduknya benar-benar memakai crypto dalam kehidupan nyata.
Inilah yang membuat indeks ini menarik dan berbeda dari sekadar daftar volume transaksi. Chainalysis sengaja merancangnya untuk menyoroti negara-negara di mana orang biasa menggunakan crypto secara ekstensif, sering kali didorong kebutuhan ekonomi nyata seperti pengiriman uang, lindung nilai terhadap inflasi, atau akses ke layanan finansial yang sulit dijangkau lewat perbankan tradisional. Skornya kemudian dibobot dengan faktor seperti ukuran populasi dan daya beli, lalu dihitung dengan rata-rata geometrik dari seluruh sub-indeks.
Peringkat setiap negara dibangun dari empat sub-indeks yang masing-masing mengukur jenis aktivitas berbeda: nilai on-chain yang diterima melalui layanan terpusat secara keseluruhan, nilai on-chain berukuran ritel yang diterima layanan terpusat, nilai yang diterima protokol DeFi, dan nilai institusional yang diterima layanan terpusat untuk transaksi besar. Setiap negara diberi skor pada keempat pilar ini, dinormalisasi pada skala 0 sampai 1, lalu digabungkan menjadi satu skor komposit.
Yang perlu kamu tangkap dari struktur ini: peringkat sebuah negara sangat bergantung pada pilar mana yang diberi bobot lebih besar. Ketika satu pilar dihapus dan pilar baru ditambahkan, seluruh peta bisa bergeser tanpa ada satu pun orang yang berhenti bertransaksi. Itulah yang terjadi pada Indonesia tahun ini.
Peringkat 7 sebenarnya menegaskan identitas Indonesia sebagai pasar crypto yang digerakkan dari bawah, bukan dari atas. Adopsi crypto di Indonesia tidak didorong oleh segelintir institusi besar atau investor kakap, melainkan oleh partisipasi kolektif jutaan pengguna biasa yang berdagang, berinvestasi, dan bereksperimen dengan aset digital. Model adopsi seperti ini punya karakter yang berbeda, dan dalam banyak hal lebih tahan banting.
Konteks regionalnya juga memperkuat gambaran ini. Kawasan Asia-Pasifik menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia pada 2025, dengan nilai on-chain yang diterima melonjak 69% secara tahunan, dari sekitar 1,4 triliun menjadi 2,36 triliun dolar AS dalam dua belas bulan hingga Juni 2025. Indonesia adalah bagian dari mesin pertumbuhan ini. Jadi ketika peringkatnya turun sementara kawasannya justru meledak, itu sinyal yang jelas bahwa yang berubah adalah cara menghitung, bukan arah pertumbuhan.
Adopsi ritel berarti crypto digunakan oleh banyak individu dalam jumlah transaksi yang relatif kecil, sedangkan adopsi institusional berarti crypto digerakkan oleh sedikit entitas besar dalam transaksi bernilai jutaan dolar. Keduanya sah, tapi menghasilkan ekosistem yang berbeda rasanya bagi trader biasa.
Di pasar yang didominasi institusi, seorang pemula bisa merasa seperti pemain kecil di kolam yang dikuasai paus. Di pasar ritel-driven seperti Indonesia, kamu adalah bagian dari arus utama, bukan pengecualian. Komunitasnya besar, informasi mengalir cepat, dan likuiditas untuk aset populer terbentuk dari banyaknya partisipan aktif. Bagi seorang trader pemula, lingkungan seperti ini secara praktis lebih ramah untuk belajar dan masuk secara bertahap.
Untuk kamu yang baru mulai atau sedang mempertimbangkan masuk ke crypto, peringkat 7 ini sebenarnya kabar yang menenangkan. Kamu berada di salah satu pasar ritel paling aktif di dunia, dengan basis pengguna yang dalam dan budaya adopsi yang matang. Beberapa hal konkret yang bisa kamu ambil dari data ini:
Turunnya peringkat Indonesia dari 3 ke 7 adalah hasil perubahan metodologi Chainalysis, bukan penurunan minat atau aktivitas crypto di dalam negeri.
Kekuatan Indonesia ada di adopsi ritel dan DeFi akar rumput, yang berarti pasar ini digerakkan oleh orang-orang seperti kamu, bukan segelintir institusi.
Kawasan Asia-Pasifik tumbuh 69% secara tahunan pada 2025, menandakan momentum adopsi di regional ini justru sedang menguat.
Pasar yang dalam dan ramai cenderung menghadirkan likuiditas lebih baik untuk aset-aset populer, faktor penting saat kamu ingin membeli atau menjual tanpa selisih harga yang lebar.
Bagian yang sering terlewat oleh pemula adalah bahwa "adopsi tinggi" punya konsekuensi praktis yang nyata saat kamu mulai transaksi. Pasar dengan banyak partisipan aktif biasanya menawarkan likuiditas yang lebih baik, artinya lebih mudah masuk dan keluar posisi pada harga yang wajar. Ini berbeda dengan pasar tipis di mana selisih harga beli dan jual bisa menggerus modalmu bahkan sebelum harga bergerak.
Akses ke pasar yang matang ini tetap menuntut satu hal mendasar: memilih tempat transaksi yang kredibel dan diawasi regulator. Di sinilah faktor legalitas menjadi penting. Sejak 10 Januari 2025, pengawasan aset kripto di Indonesia resmi berpindah dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Memilih bursa yang terdaftar dan diawasi OJK, sekaligus punya rekam jejak global, adalah bagian dari partisipasi yang sehat di pasar seaktif ini. Bybit Indonesia, sebagai bursa crypto terbesar kedua di dunia dengan lebih dari 30 juta pengguna dan terdaftar di bawah pengawasan OJK, adalah salah satu opsi yang memenuhi kriteria tersebut bagi kamu yang ingin masuk dengan pijakan yang jelas.
Data 2025 memberi satu petunjuk arah yang jelas: fase pertumbuhan berikutnya kemungkinan besar akan ditentukan oleh keseimbangan antara kekuatan ritel yang sudah ada dan partisipasi institusional yang masih berkembang. Selama ini Indonesia unggul di sisi ritel, dan justru perubahan metodologi Chainalysis tahun ini menyoroti sisi yang belum tergarap penuh, yaitu aktivitas institusional berskala besar.
Bagi kamu sebagai trader ritel, ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Justru sebaliknya, masuknya pemain institusional dan kejelasan regulasi di bawah OJK berpotensi membuat ekosistem lebih dalam, lebih likuid, dan lebih aman untuk semua orang. Pasar yang matang secara institusional dan tetap kuat secara ritel adalah kombinasi yang menguntungkan partisipan kecil, bukan mengancamnya.
Peringkat 7 bukan rapor merah. Itu adalah potret sebuah pasar yang tumbuh dari bawah, digerakkan oleh jutaan orang biasa, dan diukur ulang dengan penggaris yang berbeda dari tahun lalu. Pelajaran sebenarnya dari laporan Chainalysis 2025 bukan soal naik atau turun satu peringkat, melainkan soal memahami apa yang sebenarnya diukur sebelum menarik kesimpulan. Angka tanpa konteks mudah menyesatkan, dan dalam crypto, kemampuan membaca konteks adalah salah satu keterampilan paling berharga yang bisa kamu bangun sejak awal.
Indonesia ada di posisi yang kuat, dan sebagai bagian dari pasar itu, kamu punya lebih banyak keuntungan struktural daripada yang mungkin kamu sadari. Yang perlu kamu lakukan adalah masuk dengan pemahaman, bukan sekadar mengikuti angka di berita.