Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Sebelum menggunakan protokol crypto untuk staking, lending, atau aktivitas decentralized finance (DeFi), ada satu hal yang sering menjadi pertimbangan: apakah smart contract-nya sudah diaudit?
Audit smart contract dapat membantu mengidentifikasi kelemahan pada kode dan mekanisme yang menjalankan suatu protokol. Namun, status audited bukan jaminan bahwa seluruh sistem bebas dari kerentanan atau bahwa pengguna tidak akan mengalami kerugian.
Karena itu, penting untuk membaca laporan audit secara menyeluruh, bukan sekadar mencari logo auditor atau tulisan “sudah diaudit” di situs proyek.
Hal penting yang perlu dipahami:
Audit smart contract memeriksa keamanan kode dalam ruang lingkup tertentu.
Hasil audit perlu dilihat bersama temuan, tingkat keparahan, dan status perbaikannya.
Audit terhadap satu versi kode tidak otomatis mencakup perubahan berikutnya.
Audit tidak menghilangkan risiko pasar, likuiditas, tata kelola, atau ketergantungan pada sistem eksternal.
Audit teknis berbeda dari penilaian status perizinan dan kepatuhan regulasi.
Smart contract adalah program yang berjalan di blockchain untuk menjalankan aturan tertentu secara otomatis ketika kondisi yang ditetapkan terpenuhi. Program ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pertukaran aset, pengelolaan likuiditas, peminjaman crypto, dan distribusi imbal hasil.
Karena smart contract dapat mengatur perpindahan aset secara otomatis, kesalahan pada kode atau logikanya berpotensi menimbulkan dampak finansial.
Audit smart contract merupakan proses pemeriksaan keamanan terhadap kode dan mekanisme kontrak tersebut. Pemeriksaan biasanya dilakukan oleh auditor yang memiliki keahlian dalam keamanan aplikasi blockchain.
Dalam prosesnya, auditor dapat meninjau kode, menganalisis desain sistem, menguji kemungkinan penyalahgunaan fungsi, dan mengidentifikasi kelemahan yang dapat mempengaruhi operasional kontrak.
Hasil pemeriksaan umumnya dituangkan dalam laporan yang mencakup ruang lingkup audit, temuan keamanan, tingkat keparahan, serta rekomendasi perbaikan. Detail laporan dapat berbeda tergantung auditor dan metode pemeriksaannya.
Hal yang perlu diingat: audit adalah pemeriksaan terhadap ruang lingkup tertentu, bukan sertifikat bahwa seluruh aspek suatu protokol pasti aman.
Ruang lingkup audit berbeda-beda untuk setiap proyek. Meski demikian, ada beberapa aspek keamanan yang lazim diperiksa.
Auditor memeriksa apakah kode menjalankan aturan sesuai dengan rancangan dan apakah terdapat celah yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan tindakan yang tidak semestinya.
Contohnya, suatu fungsi mungkin tidak memvalidasi input dengan benar, menghitung saldo secara keliru, atau memungkinkan pengguna menjalankan fungsi dalam kondisi yang seharusnya tidak diperbolehkan.
Pada protokol DeFi, kesalahan tertentu dapat mempengaruhi proses deposit, penarikan, pertukaran aset, atau penghitungan saldo pengguna.
Namun, jenis kerentanan yang dapat ditemukan bergantung pada kode yang diperiksa, metode pengujian, dan ruang lingkup audit. Tidak semua laporan mencakup setiap kemungkinan serangan.
Tidak semua fungsi smart contract dapat dijalankan oleh setiap pengguna. Sebagian protokol memiliki peran khusus yang memungkinkan pihak tertentu mengubah parameter, menghentikan fungsi, mengelola sistem, atau memperbarui kontrak.
Auditor dapat memeriksa apakah hak akses tersebut diterapkan dengan benar dan apakah terdapat fungsi yang bisa dijalankan oleh pihak tanpa izin.
Bagi pengguna, bagian ini juga penting untuk memahami ketergantungan protokol pada pengelola atau administrator.
Sebagai contoh, sebuah protokol mungkin memiliki kontrol admin untuk menghentikan transaksi ketika terjadi masalah. Mekanisme ini dapat membantu pengelolaan risiko, tetapi kewenangan yang terlalu luas juga dapat menciptakan risiko tambahan jika disalahgunakan atau jika aksesnya tidak dikelola dengan baik.
Keberadaan fungsi admin tidak otomatis berarti sebuah protokol tidak aman. Yang perlu dipahami adalah kewenangan yang dimiliki, batasannya, dan bagaimana kewenangan tersebut dikendalikan.
Smart contract yang mengelola aset perlu menjalankan fungsi transaksi sesuai aturan yang ditetapkan. Karena itu, audit dapat mencakup pemeriksaan terhadap mekanisme deposit, penarikan, transfer, dan penghitungan saldo.
Auditor dapat mencari kemungkinan kesalahan yang menyebabkan aset terkunci, perhitungan tidak konsisten, atau fungsi tertentu dapat dimanfaatkan untuk memindahkan aset tanpa memenuhi persyaratan yang semestinya.
Pada protokol lending, misalnya, logika jaminan dan penarikan aset menjadi bagian penting dari desain sistem. Kesalahan pada mekanisme tersebut dapat memengaruhi cara protokol mengelola posisi pengguna.
Meski demikian, audit terhadap mekanisme transaksi tidak berarti seluruh risiko keuangan dari protokol sudah teratasi. Desain ekonomi dan kondisi pasar juga dapat mempengaruhi hasil penggunaan protokol.
Sebagian smart contract tidak bekerja secara terpisah. Protokol mungkin bergantung pada oracle untuk memperoleh data harga, bridge untuk memindahkan aset lintas blockchain, atau kontrak lain untuk menjalankan fungsi tertentu.
Ketergantungan ini dapat menimbulkan risiko jika sistem eksternal mengalami gangguan, memberikan data yang keliru, atau memiliki kerentanan sendiri.
Auditor dapat memeriksa bagaimana kontrak menangani data dan interaksi tersebut. Namun, jangan berasumsi bahwa semua komponen eksternal telah diperiksa hanya karena protokol utamanya memiliki laporan audit.
Periksa bagian scope atau ruang lingkup laporan untuk mengetahui komponen mana yang benar-benar termasuk dalam pemeriksaan.
Memahami keterbatasan audit sama pentingnya dengan mengetahui manfaatnya. Laporan audit dapat memberikan informasi teknis yang berguna, tetapi tidak menjawab semua pertanyaan mengenai risiko suatu protokol.
Audit tidak menjamin bahwa setiap kelemahan berhasil ditemukan.
Sistem blockchain dan smart contract dapat memiliki struktur yang kompleks. Auditor mungkin menggunakan kombinasi analisis kode, pengujian otomatis, dan pemeriksaan manual, tetapi setiap metode memiliki keterbatasan.
Kerentanan juga dapat muncul dari interaksi beberapa komponen yang sulit diidentifikasi ketika masing-masing diperiksa secara terpisah.
Karena itu, laporan audit sebaiknya dipahami sebagai hasil pemeriksaan pada ruang lingkup dan waktu tertentu. Bukan sebagai bukti bahwa protokol tidak mungkin mengalami masalah keamanan di kemudian hari.
Hasil audit hanya relevan terhadap kode dan komponen yang diperiksa.
Jika pengembang melakukan perubahan setelah audit, misalnya memperbarui mekanisme penarikan atau menambahkan fungsi baru, hasil pemeriksaan sebelumnya tidak otomatis mencakup perubahan tersebut.
Hal ini penting terutama untuk protokol yang menggunakan mekanisme upgrade. Sebagian smart contract dapat diperbarui melalui struktur tertentu tanpa mengubah alamat kontrak yang terlihat oleh pengguna.
Sebelum menggunakan protokol, periksa apakah laporan audit mencantumkan versi kode, alamat kontrak, atau informasi lain yang dapat digunakan untuk mencocokkan laporan dengan implementasi yang sedang berjalan.
Jika informasi tersebut tidak tersedia, ada batasan dalam memastikan apakah hasil audit benar-benar berlaku untuk versi yang akan digunakan.
Audit keamanan bukan jaminan bahwa pengguna akan memperoleh keuntungan atau terhindar dari kerugian.
Nilai aset crypto dapat berubah karena kondisi pasar. Protokol juga dapat menghadapi masalah likuiditas, kegagalan mekanisme ekonomi, atau gangguan pada layanan yang menjadi bagian dari operasionalnya.
Sebagai contoh, sebuah protokol dapat memiliki smart contract yang telah diperiksa, tetapi pengguna tetap berisiko mengalami kerugian akibat perubahan harga aset atau kesulitan menarik aset ketika likuiditas terbatas.
Risiko tersebut tidak selalu disebabkan oleh kerentanan kode. Karena itu, hasil audit perlu dipertimbangkan bersama karakteristik produk, mekanisme operasional, dan risiko finansial yang relevan.
Audit smart contract berfokus pada pemeriksaan teknis sesuai ruang lingkupnya. Audit tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh kegiatan suatu protokol atau penyedia layanan memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.
Aspek keamanan teknis, status perizinan, dan kewajiban regulasi merupakan hal yang berbeda. Penilaiannya bergantung pada kegiatan yang dilakukan, pihak yang menyelenggarakan layanan, dan ketentuan yang relevan.
Di Indonesia, informasi mengenai pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital, termasuk aset crypto, dapat dirujuk melalui sumber resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai cakupan kewenangannya.
Pengguna sebaiknya tidak menjadikan laporan audit sebagai satu-satunya dasar untuk menilai status hukum atau perizinan suatu layanan. Sebaliknya, pemeriksaan terhadap informasi resmi regulator juga tidak menggantikan evaluasi risiko teknis dari smart contract yang digunakan.
Jika sebuah protokol mengklaim telah diaudit, jangan berhenti pada klaim tersebut. Gunakan laporan audit untuk memahami apa yang diperiksa, apa yang ditemukan, dan apa yang masih belum jelas.
Mulailah dengan mencari laporan audit lengkap yang dipublikasikan oleh proyek atau auditor terkait.
Periksa identitas auditor, tanggal penerbitan laporan, dan protokol yang diperiksa. Jika tersedia, baca laporan dari sumber aslinya, bukan hanya ringkasan promosi di situs proyek.
Informasi ini membantu memastikan bahwa klaim audit dapat ditelusuri. Namun, keberadaan nama auditor atau laporan yang dipublikasikan tetap tidak berarti seluruh risiko telah dihilangkan.
Laporan audit biasanya mencantumkan komponen yang diperiksa dan, dalam beberapa kasus, bagian yang dikecualikan.
Periksa apakah pemeriksaan mencakup kontrak utama yang mengelola aset pengguna, kontrak pendukung, atau hanya modul tertentu.
Jika protokol menggunakan beberapa kontrak yang saling terhubung, audit terhadap satu kontrak belum tentu mencakup seluruh sistem.
Perhatikan juga jaringan blockchain dan alamat kontrak yang disebutkan dalam laporan. Nama proyek saja belum cukup untuk memastikan bahwa kontrak yang digunakan sama dengan kontrak yang diaudit.
Tanggal audit membantu menunjukkan kapan pemeriksaan dilakukan, tetapi tanggal terbaru saja tidak otomatis menunjukkan kualitas audit yang lebih baik.
Yang perlu diperiksa adalah hubungan antara waktu audit dan perubahan pada protokol.
Jika terdapat pembaruan setelah audit, cari informasi mengenai versi kode yang diperiksa dan apakah perubahan tersebut juga telah ditinjau. Jika tersedia, laporan audit lanjutan dapat membantu memperjelas cakupan pemeriksaan terbaru.
Tanpa informasi tersebut, jangan langsung menganggap bahwa seluruh perubahan terbaru telah melewati pemeriksaan keamanan yang sama.
Laporan audit dapat mengelompokkan temuan berdasarkan tingkat keparahan, misalnya critical, high, medium, low, atau informational.
Klasifikasi ini membantu pembaca memahami potensi dampak suatu masalah. Namun, istilah dan kriteria penilaian dapat berbeda antar-auditor.
Secara umum, temuan dengan tingkat keparahan tinggi perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi menimbulkan dampak besar jika dapat dieksploitasi.
Jangan hanya menghitung jumlah temuan. Satu temuan serius dapat lebih relevan daripada banyak temuan kecil yang dampaknya terbatas.
Baca penjelasan mengenai kondisi yang memungkinkan masalah terjadi, dampaknya terhadap sistem, dan rekomendasi yang diberikan auditor.
Temuan audit tidak selalu berarti bahwa protokol masih memiliki kerentanan yang belum diselesaikan. Tim pengembang mungkin telah melakukan perbaikan setelah menerima laporan.
Periksa status setiap temuan. Beberapa laporan menggunakan istilah seperti fixed, resolved, acknowledged, atau unresolved. Makna dan penggunaan istilah tersebut bergantung pada laporan masing-masing.
Jika suatu temuan dinyatakan telah diperbaiki, cari tahu apakah laporan mencantumkan bukti atau pemeriksaan ulang atas perbaikan tersebut.
Temuan yang belum diselesaikan perlu dipahami berdasarkan tingkat keparahan, dampak, dan alasan yang diberikan. Jangan langsung menganggap semua temuan yang masih terbuka memiliki tingkat risiko yang sama, tetapi jangan pula mengabaikannya tanpa memahami konsekuensinya.
Selain membaca daftar kerentanan, perhatikan bagaimana protokol dikelola.
Apakah pengelola memiliki hak untuk mengubah parameter penting? Apakah smart contract dapat diperbarui? Apakah ada mekanisme penghentian darurat? Siapa yang dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut?
Informasi ini membantu pengguna memahami seberapa besar kendali yang masih dimiliki pihak tertentu atas protokol.
Laporan audit mungkin membahas sebagian aspek tersebut, tetapi tidak selalu memberikan penilaian menyeluruh terhadap tata kelola proyek. Jika informasinya tidak tersedia, pembaca perlu mengakui bahwa ada aspek risiko yang belum dapat dievaluasi dari laporan tersebut.
Bayangkan sebuah protokol lending menyatakan bahwa smart contract-nya telah diaudit. Proyek tersebut juga menyediakan laporan yang menunjukkan bahwa auditor menemukan beberapa masalah dan memberikan rekomendasi perbaikan.
Namun, laporan itu diterbitkan sebelum protokol menambahkan fitur baru untuk mengelola penarikan aset.
Apa yang perlu diperhatikan?
Pertama, periksa apakah fitur penarikan yang digunakan saat ini termasuk dalam ruang lingkup audit. Jika fitur tersebut baru ditambahkan setelah pemeriksaan, laporan lama tidak otomatis membuktikan bahwa fitur baru telah diperiksa.
Kedua, baca temuan dan status perbaikannya. Jika laporan menunjukkan bahwa masalah tertentu telah diselesaikan, periksa apakah terdapat informasi mengenai verifikasi perbaikan tersebut.
Ketiga, tinjau hak admin, mekanisme upgrade, dan ketergantungan pada kontrak lain. Aspek-aspek ini dapat mempengaruhi risiko penggunaan protokol meskipun laporan audit tidak mencatat temuan kritis.
Dari contoh tersebut, status “sudah diaudit” memberikan informasi awal, tetapi belum cukup untuk mengambil keputusan. Pengguna perlu memahami cakupan pemeriksaan dan keterbatasan informasi yang tersedia.
Sebelum menyetorkan aset atau menggunakan layanan berbasis smart contract, pertimbangkan pertanyaan berikut:
Apakah laporan audit lengkap tersedia dan dapat ditelusuri?
Apakah identitas auditor, tanggal pemeriksaan, dan ruang lingkupnya dijelaskan?
Apakah alamat kontrak atau versi kode sesuai dengan implementasi yang digunakan?
Apakah ada perubahan kode setelah audit dilakukan?
Apakah temuan berisiko tinggi telah ditangani, dan apakah perbaikannya telah diverifikasi jika informasinya tersedia?
Apakah hak admin dan mekanisme upgrade dapat dipahami?
Apakah protokol bergantung pada oracle, bridge, atau kontrak lain yang memiliki risiko tersendiri?
Apakah risiko likuiditas, perubahan harga, dan mekanisme ekonomi juga telah dipertimbangkan?
Apakah informasi mengenai penyelenggara dan status regulasi telah diperiksa melalui sumber resmi yang relevan?
Apakah saya memahami bahwa audit tidak menjamin aset bebas dari risiko kerugian?
Tidak semua pertanyaan dapat dijawab hanya melalui laporan audit. Jika informasi penting tidak tersedia, perlakukan hal tersebut sebagai keterbatasan dalam menilai protokol, bukan sebagai bukti bahwa protokol pasti aman atau tidak aman.
Audit smart contract dapat membantu pengguna memahami bagaimana kode suatu protokol diperiksa dan apakah auditor menemukan kelemahan tertentu. Namun, manfaatnya bergantung pada ruang lingkup, kualitas pemeriksaan, serta kesesuaian laporan dengan implementasi yang digunakan.
Sebelum menggunakan protokol crypto, baca laporan audit secara menyeluruh, periksa status perbaikan temuan, dan pahami risiko yang berada di luar cakupan pemeriksaan. Pertimbangkan juga risiko finansial dan informasi regulasi yang relevan.
Jika ingin memahami nilai aset sebelum melakukan transaksi, Anda dapat menggunakan fitur konversi USDT ke ETH di Bybit Indonesia. Perlu diingat bahwa konversi aset merupakan aktivitas yang berbeda dari pemeriksaan keamanan smart contract suatu protokol.
Untuk mempelajari pasangan perdagangan ETH/USDT, Anda dapat melihat pasar spot ETH/USDT di Bybit Indonesia dan memahami harga serta ketentuan transaksi yang tersedia. Aktivitas perdagangan tetap memiliki risiko pasar yang tidak dihilangkan oleh audit smart contract.
Jika ingin menukar satu aset crypto ke aset lainnya, Anda juga dapat mempelajari fitur Exchange aset crypto di Bybit Indonesia. Sebelum melakukan transaksi, pahami aset yang digunakan, nilai tukar, biaya, dan ketentuan layanan yang berlaku.
Pada akhirnya, audit sebaiknya diperlakukan sebagai salah satu sumber informasi untuk menilai risiko, bukan sebagai jaminan keamanan. Semakin jelas pemahaman pengguna mengenai apa yang diperiksa dan apa yang belum terjawab, semakin terukur pula keputusan yang dapat diambil sebelum menggunakan protokol crypto.