Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Stablecoin sering digunakan untuk menyimpan nilai dalam ekosistem crypto tanpa harus terus terpapar perubahan harga aset seperti Bitcoin atau Ethereum. Salah satu contohnya adalah USDT dan USDC, yang dirancang untuk mempertahankan nilai mendekati US$1 per token.
Namun, harga stablecoin tidak selalu tepat US$1. Dalam kondisi pasar tertentu, harganya dapat turun di bawah patokan atau justru naik di atasnya. Penyimpangan ini dikenal sebagai depeg.
Depeg dapat terjadi karena tekanan jual, masalah likuiditas, kekhawatiran terhadap cadangan penerbit, atau mekanisme stabilisasi yang tidak mampu menghadapi tekanan pasar. Dampaknya juga tidak selalu sama. Penyimpangan kecil yang berlangsung singkat berbeda dari situasi ketika harga terus menurun dan kepercayaan terhadap stablecoin melemah.
Hal penting yang perlu diketahui:
Stablecoin dirancang untuk mempertahankan nilai terhadap aset acuan, tetapi harga pasar tidak dijamin selalu sama dengan nilai patokannya.
Depeg dapat disebabkan oleh masalah likuiditas, kepercayaan, cadangan, atau desain mekanisme stablecoin.
USDT dan USDC memiliki struktur serta mekanisme masing-masing, sehingga risikonya tidak selalu identik.
Depeg dapat mengurangi nilai pasar aset, mempersulit penukaran, dan mempengaruhi posisi pengguna di protokol DeFi.
Harga yang menyimpang dari US$1 tidak otomatis membuktikan penerbit mengalami kegagalan, tetapi perlu ditelusuri penyebab dan durasinya.
Stablecoin adalah aset crypto yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil terhadap aset acuan tertentu. Untuk stablecoin yang dipatok ke dolar AS, target nilainya umumnya sekitar US$1 per token.
Berbeda dari Bitcoin yang harganya bergerak mengikuti permintaan dan penawaran pasar tanpa target nilai tetap, stablecoin menggunakan mekanisme tertentu untuk menjaga harga mendekati patokan. Mekanisme tersebut dapat melibatkan cadangan aset, proses penerbitan dan penukaran, jaminan crypto, atau pengaturan suplai melalui algoritma.
Depeg terjadi ketika harga pasar stablecoin menyimpang dari nilai yang menjadi patokannya.
Sebagai contoh, jika USDT diperdagangkan pada US0,98,harganyaberadaUS0,02 di bawah patokan US1.Sebaliknya,jika harganya mencapai US 1,02, stablecoin tersebut diperdagangkan di atas patokan.
Penyimpangan ini tidak selalu menunjukkan masalah yang sama. Harga bisa berubah sementara karena kondisi perdagangan, atau menyimpang lebih jauh ketika pasar meragukan kemampuan mekanisme stablecoin mempertahankan nilainya.
Federal Reserve menjelaskan bahwa stablecoin dapat mengalami depeg di pasar sekunder, terutama ketika terjadi tekanan pasar. Harga perdagangan di bursa juga perlu dibedakan dari mekanisme penerbitan dan penukaran langsung melalui penerbit. Federal Reserve: Primary and Secondary Markets for Stablecoins.
Salah satu penyebab depeg adalah ketika banyak pemegang stablecoin berusaha menjual asetnya dalam waktu bersamaan.
Misalnya, muncul kabar yang menimbulkan kekhawatiran terhadap sebuah stablecoin. Sebagian pemegang mungkin memilih menjualnya dan berpindah ke aset lain yang dianggap lebih aman. Jika jumlah penjual meningkat sementara pembeli tidak cukup banyak pada harga mendekati US$1, harga dapat turun.
Mekanisme ini mengikuti prinsip permintaan dan penawaran. Stablecoin tetap diperdagangkan di pasar, sehingga harganya dapat bergerak ketika keseimbangan antara pembeli dan penjual berubah.
Tekanan jual juga dapat membesar karena perilaku pengguna yang saling mempengaruhi. Ketika harga mulai turun, pemegang lain mungkin ikut menjual karena khawatir harga akan terus melemah. Jika kondisi ini berlangsung, penyimpangan harga dapat semakin besar.
Meski begitu, tekanan jual tidak otomatis membuktikan bahwa cadangan penerbit bermasalah. Penyebabnya perlu diperiksa bersama informasi mengenai likuiditas, akses penukaran, dan kondisi pasar.
Sebagian stablecoin, termasuk USDT dan USDC, menggunakan cadangan aset untuk mendukung nilai token yang beredar. Dalam model ini, kepercayaan pengguna dipengaruhi oleh kualitas cadangan, pengelolaannya, transparansi informasi, serta kemampuan memenuhi penukaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Jika muncul keraguan mengenai kecukupan cadangan atau akses penerbit terhadap aset pendukungnya, pengguna dapat berusaha menjual token sebelum memperoleh kepastian lebih lanjut.
Kekhawatiran semacam ini bisa memengaruhi harga pasar meskipun belum ada bukti bahwa penerbit tidak mampu memenuhi kewajibannya. Pasar dapat bereaksi terhadap ketidakpastian sebelum seluruh informasi tersedia.
Karena itu, penting untuk membedakan rumor, pengumuman resmi, laporan cadangan, dan bukti nyata mengenai gangguan penukaran.
USDT dan USDC juga tidak boleh dianggap memiliki struktur cadangan yang persis sama. Informasi mengenai aset pendukung dan laporan transparansi perlu diperiksa dari sumber masing-masing penerbit, seperti halaman transparansi Tether dan informasi resmi USDC dari Circle.
Likuiditas menggambarkan seberapa mudah suatu aset dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar.
Ketika pasar memiliki banyak pembeli dan penjual pada berbagai tingkat harga, transaksi besar relatif lebih mudah diserap. Sebaliknya, ketika likuiditas menipis, pesanan jual yang besar dapat mendorong harga turun lebih jauh.
Hal ini dapat terjadi pada stablecoin ketika aktivitas perdagangan meningkat secara mendadak, tetapi jumlah pembeli yang bersedia mengambil posisi tidak cukup untuk menyerap penjualan.
Harga juga dapat berbeda antar-bursa. Setiap platform memiliki volume perdagangan, kedalaman pasar, pasangan perdagangan, dan komposisi penggunanya sendiri. Akibatnya, harga USDT atau USDC di satu pasar belum tentu sama persis dengan harga di pasar lain pada saat yang sama.
Perbedaan harga tersebut tidak selalu berarti stablecoin mengalami masalah fundamental. Namun, jika selisihnya membesar atau bertahan lama, pengguna perlu memeriksa apakah penyebabnya hanya kondisi pasar atau terdapat gangguan yang lebih mendasar.
Mekanisme penukaran merupakan salah satu faktor yang membantu menghubungkan harga stablecoin dengan nilai patokannya.
Dalam model berbasis cadangan, pihak yang memenuhi persyaratan tertentu dapat memiliki akses untuk menerbitkan atau menukarkan token melalui penerbit. Ketika harga pasar menyimpang, aktivitas penukaran dan arbitrase dapat membantu mendorong harga kembali mendekati patokan.
Namun, akses langsung ke penerbit tidak selalu tersedia bagi semua pengguna. Prosesnya dapat memiliki persyaratan, biaya, batas minimum, atau ketentuan operasional tertentu. Pemrosesan juga dapat dipengaruhi oleh jam layanan perbankan dan infrastruktur pembayaran yang digunakan.
Jika proses penukaran terganggu atau pasar meragukan kelancarannya, peluang untuk mengembalikan harga ke sekitar US$1 dapat melemah.
Penting untuk membedakan penjualan stablecoin di bursa dari penukaran langsung kepada penerbit. Pengguna yang hanya bertransaksi di pasar sekunder bergantung pada harga dan likuiditas pasar tersebut, bukan otomatis memiliki akses ke penukaran langsung dengan penerbit.
Tidak semua stablecoin mempertahankan patokan dengan cara yang sama. Perbedaan desain menentukan bagaimana suatu aset merespons tekanan pasar.
Stablecoin berbasis cadangan menggunakan aset pendukung dan mekanisme penerbitan atau penukaran untuk membantu menjaga nilainya. Risikonya dapat mencakup kualitas dan likuiditas cadangan, akses ke lembaga keuangan, serta kemampuan memenuhi penukaran.
Stablecoin berbasis jaminan crypto menggunakan aset crypto sebagai jaminan. Mekanismenya dapat mencakup persyaratan jaminan berlebih, likuidasi, dan pengelolaan posisi. Karena nilai jaminannya dapat berubah tajam, penurunan harga aset pendukung dapat meningkatkan tekanan pada sistem.
Stablecoin algoritmik menggunakan aturan, insentif, atau hubungan antar-token untuk berusaha mempertahankan patokan. Jika mekanismenya bergantung pada permintaan terhadap token lain, hilangnya kepercayaan terhadap token tersebut dapat melemahkan kemampuan sistem mempertahankan nilai.
Tidak ada satu desain yang menghilangkan seluruh risiko. Namun, memahami cara kerja stablecoin membantu menjelaskan mengapa pemicu depeg dan dampaknya bisa berbeda antara satu aset dan aset lainnya.
Stablecoin yang menggunakan cadangan berbentuk simpanan bank dapat terpengaruh oleh gangguan pada lembaga keuangan tempat dana disimpan.
Dalam kondisi tertentu, penerbit mungkin menghadapi keterbatasan sementara dalam mengakses dana atau memproses pembayaran. Bahkan jika aset pendukung pada akhirnya tetap tersedia, ketidakpastian selama periode gangguan dapat mempengaruhi kepercayaan pasar.
Risiko juga dapat muncul dari infrastruktur lain yang mendukung penukaran, termasuk penyedia pembayaran dan jalur transfer dana. Masalah pada salah satu bagian sistem dapat mempengaruhi kemampuan pengguna atau institusi untuk memindahkan dana sesuai kebutuhan.
Kasus USDC pada Maret 2023 menunjukkan bahwa stablecoin berbasis cadangan pun dapat mengalami tekanan harga ketika akses terhadap sebagian cadangannya menjadi tidak pasti.
Pada Maret 2023, USDC mengalami depeg setelah Circle mengungkapkan bahwa sekitar US$3,3 miliar cadangan USDC berada di Silicon Valley Bank (SVB), yang saat itu diambil alih oleh otoritas Amerika Serikat.
Informasi tersebut memicu kekhawatiran mengenai akses terhadap sebagian cadangan. Pemegang USDC berusaha menjual atau menukar asetnya, sementara proses penukaran melalui sistem perbankan juga menghadapi keterbatasan selama akhir pekan.
Menurut analisis Federal Reserve, harga USDC di pasar sekunder turun hingga sekitar US$0,86 pada titik terendahnya dalam peristiwa tersebut. Harga kemudian pulih setelah otoritas Amerika Serikat mengumumkan langkah untuk melindungi seluruh deposan SVB dan Circle menyampaikan informasi mengenai ketersediaan cadangannya. Federal Reserve: In the Shadow of Bank Runs.
Kasus ini memperlihatkan bahwa harga stablecoin tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah aset pendukung, tetapi juga oleh akses terhadap aset tersebut, proses penukaran, dan kepercayaan pasar.
Depeg USDC saat itu bukan bukti bahwa semua stablecoin berbasis cadangan akan mengalami kejadian serupa. Namun, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa risiko perbankan dan likuiditas dapat mempengaruhi harga stablecoin meskipun aset tersebut dirancang untuk mengikuti nilai dolar AS.
Kasus TerraUSD (UST) menunjukkan risiko dari desain stablecoin yang berbeda.
UST menggunakan mekanisme algoritmik yang menghubungkan nilainya dengan token LUNA. Mekanisme tersebut dirancang untuk mempertahankan patokan melalui proses pertukaran antara kedua token. Sistem ini sangat bergantung pada permintaan, kepercayaan pasar, dan kemampuan mekanisme tersebut menyerap tekanan.
Pada Mei 2022, kepercayaan terhadap sistem menurun dan mekanisme stabilisasinya gagal mempertahankan patokan. Harga UST jatuh drastis hingga mendekati nol, bersamaan dengan runtuhnya nilai LUNA.
Bank for International Settlements (BIS) menjelaskan bahwa mekanisme tersebut mengalami kegagalan ketika pengguna kehilangan kepercayaan dan penjualan UST mendorong penerbitan LUNA dalam jumlah besar. Pasar tidak lagi mampu menyerap token baru tersebut untuk menopang sistem. BIS: Annual Economic Report 2022.
UST bukan USDT atau USDC. Kasus ini digunakan untuk menunjukkan bahwa mekanisme stabilisasi memiliki peran besar dalam menentukan risiko stablecoin. Stablecoin berbasis cadangan dan stablecoin algoritmik memiliki struktur berbeda, sehingga penyebab dan dampak depeg-nya tidak dapat disamakan begitu saja.
Ketika harga stablecoin berada di bawah patokan, nilai pasar kepemilikan dapat menjadi lebih rendah daripada nilai nominal yang diharapkan.
Misalnya, seseorang memiliki 1.000 USDC. Jika harga pasar berada di US1 per token,nilai nominal kepemilikannya sekitar US1.000.
Namun, jika harga pasar turun menjadi US0,95 per USDC,nilai pasar pada harga tersebut menjadi sekitar US950. Selisihnya adalah US$50, sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan faktor lainnya.
Perhitungan ini hanya menggambarkan nilai pada harga pasar tersebut. Nilai yang benar-benar diterima saat menjual dapat berbeda karena spread, likuiditas, ukuran pesanan, dan perubahan harga selama transaksi.
Pemegang stablecoin mungkin perlu menukar asetnya ke Bitcoin, Ethereum, atau aset crypto lainnya. Ketika stablecoin mengalami depeg, nilai yang diperoleh dalam transaksi dapat berbeda dari perkiraan berdasarkan patokan US$1.
Dampaknya bergantung pada harga eksekusi dan kondisi pasar. Dalam pasar yang kurang likuid, pengguna juga dapat menghadapi spread yang lebih lebar.
Jika ingin menukar USDT ke BTC, Anda dapat melihat fitur konversi USDT ke BTC di Bybit dan memeriksa nilai konversi yang tersedia sebelum melakukan transaksi. Perlu diingat bahwa nilai transaksi mengikuti ketentuan dan harga yang berlaku, bukan jaminan bahwa USDT selalu bernilai tepat US$1.
Ketika pasar mengalami tekanan, pengguna mungkin menghadapi likuiditas yang lebih rendah, perbedaan harga yang lebih besar, atau proses penarikan yang membutuhkan waktu lebih lama.
Penyebabnya perlu dibedakan. Masalah dapat terjadi pada pasar perdagangan, jaringan blockchain, penyedia layanan, atau proses penukaran penerbit. Masing-masing memiliki mekanisme dan dampak yang berbeda.
Karena itu, harga yang menyimpang dari patokan tidak selalu berarti jaringan blockchain sedang bermasalah. Sebaliknya, transaksi yang tertunda juga tidak otomatis membuktikan bahwa stablecoin mengalami depeg.
Stablecoin digunakan dalam berbagai aktivitas decentralized finance (DeFi), termasuk lending, liquidity pool, dan perdagangan terdesentralisasi.
Jika suatu stablecoin mengalami depeg, dampaknya dapat meluas ke protokol yang menggunakannya. Nilai jaminan, rasio pinjaman, komposisi aset dalam liquidity pool, atau perhitungan nilai portofolio dapat ikut berubah.
Sebagai contoh, liquidity pool yang berisi dua aset dengan nilai relatif seimbang dapat menjadi tidak seimbang ketika harga salah satu stablecoin turun. Pengguna yang menyediakan likuiditas dapat menghadapi perubahan komposisi aset dan risiko tambahan, bergantung pada desain pool.
Resikonya tidak sama bagi semua pemegang USDT atau USDC. Dampak bergantung pada apakah aset hanya disimpan, diperdagangkan, digunakan sebagai jaminan, atau ditempatkan dalam protokol lain.
Ketika harga stablecoin menyimpang dari patokannya, langkah pertama adalah memahami situasinya sebelum mengambil keputusan.
Bandingkan harga dari beberapa sumber. Periksa harga di beberapa pasar dan perhatikan waktu pembaruan data. Satu harga di satu platform belum tentu mewakili seluruh pasar.
Periksa besarnya penyimpangan dan durasinya. Penyimpangan kecil yang berlangsung singkat berbeda dari penurunan besar yang bertahan lama.
Cari pengumuman resmi penerbit. Periksa informasi tentang cadangan, proses penukaran, dan gangguan operasional melalui kanal resmi.
Amati likuiditas pasar. Periksa spread, kedalaman pasar, dan volume perdagangan. Harga yang terlihat di layar tidak selalu berarti seluruh kepemilikan dapat dijual pada harga tersebut.
Pastikan jaringan dan aset yang digunakan benar. Jika transaksi tertunda, periksa status jaringan dan transaksi sebelum menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah depeg.
Evaluasi penggunaan stablecoin. Jika aset digunakan dalam protokol DeFi, periksa bagaimana perubahan harga dapat mempengaruhi jaminan, posisi pinjaman, atau likuiditas.
Hindari keputusan berdasarkan rumor. Gunakan informasi yang dapat diverifikasi dan pertimbangkan risiko dari setiap tindakan.
Langkah-langkah tersebut membantu pengguna menilai situasi, tetapi tidak menjamin bahwa kerugian dapat dihindari. Kondisi pasar dan akses penukaran dapat berubah dengan cepat.
Tidak selalu di pasar perdagangan.
Target patokan US$1 berbeda dari harga yang tersedia di bursa pada suatu waktu. Harga pasar terbentuk dari transaksi dan pesanan yang tersedia, sedangkan mekanisme penukaran langsung melalui penerbit mengikuti persyaratan dan ketentuan masing-masing.
Perbedaan ini penting ketika membaca klaim bahwa sebuah stablecoin “didukung” atau “dapat ditukarkan” dengan dolar AS. Klaim tersebut perlu dipahami sesuai mekanisme dan persyaratan yang berlaku, bukan sebagai jaminan bahwa setiap pengguna selalu dapat menjual token pada harga tepat US$1 di setiap platform.
USDT dan USDC juga memiliki penerbit, struktur cadangan, dan proses penukaran masing-masing. Informasi dari satu penerbit tidak boleh dianggap otomatis berlaku untuk penerbit lainnya.
Jika ingin memperdagangkan BTC terhadap USDT, Anda dapat mempelajari pasangan spot BTC/USDT di Bybit Indonesia. Perhatikan bahwa harga pasangan perdagangan dipengaruhi oleh kondisi pasar dan tidak dengan sendirinya menunjukkan apakah USDT sedang diperdagangkan tepat pada patokannya.
Jika ingin menukar satu aset crypto ke aset lainnya, Anda juga dapat mempelajari fitur Exchange aset crypto di Bybit Indonesia. Sebelum melakukan transaksi, periksa nilai tukar, biaya, aset yang digunakan, dan ketentuan layanan yang berlaku.
Stablecoin dirancang untuk menawarkan nilai yang relatif stabil dibandingkan aset crypto yang lebih volatil. Namun, target patokan bukan berarti harga pasar selalu tetap atau risiko kerugian tidak mungkin terjadi.
Depeg dapat dipicu oleh tekanan jual, likuiditas yang menipis, keraguan terhadap cadangan, gangguan penukaran, atau kelemahan mekanisme stabilisasi. Kasus USDC pada Maret 2023 dan TerraUSD pada Mei 2022 menunjukkan bahwa penyebab depeg dapat berbeda secara mendasar, tergantung pada struktur stablecoin dan kondisi yang dihadapinya.
Sebelum menggunakan stablecoin, pahami bagaimana aset tersebut mempertahankan patokannya, siapa penerbitnya, bagaimana proses penukarannya, dan informasi apa yang tersedia mengenai cadangan atau mekanisme pendukungnya. Jika stablecoin digunakan dalam perdagangan atau protokol DeFi, pertimbangkan pula risiko likuiditas, harga, dan ketergantungan pada layanan lain.
Dengan memahami faktor-faktor tersebut, pengguna dapat menilai fungsi stablecoin secara lebih realistis: sebagai aset yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil, bukan sebagai aset yang bebas dari risiko.