Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Per September 2026, USDT beredar senilai sekitar $183 miliar dan USDC sekitar $74 miliar, keduanya bersama-sama menguasai lebih dari 80% pasar stablecoin global. Di Indonesia, keduanya tersedia di platform yang terdaftar OJK dan digunakan oleh jutaan trader sebagai "tempat parkir" dana di antara posisi trading. Tapi meski tampak serupa di permukaan, di baliknya dua stablecoin ini dibangun dengan pendekatan yang cukup berbeda, dan perbedaan itu relevan ketika kamu memutuskan dimana menaruh dana dalam jumlah signifikan.
USDT diterbitkan Tether, cadangan lebih besar dan beragam, likuiditas tertinggi di pasar, transparansi lebih terbatas.
USDC diterbitkan Circle, cadangan lebih sempit dan konservatif, atestasi bulanan oleh Deloitte, lebih mudah diverifikasi.
Keduanya pernah mengalami depeg singkat. Keduanya pulih. Tapi pemicunya berbeda dan itu penting dipahami.
Tidak ada yang "pasti lebih aman." Pilihan yang tepat bergantung pada apa yang kamu prioritaskan: likuiditas atau transparansi.
Dua stablecoin dolar terbesar di dunia, satu pertanyaan yang jawabannya tidak sesederhana yang diharapkan.
Stabilitas stablecoin fiat bergantung pada satu hal: apakah cadangan di baliknya cukup, nyata, dan bisa diakses ketika dibutuhkan. Di sinilah USDT dan USDC mulai terlihat berbeda.
Tether melaporkan total aset senilai $191,7 miliar per Q1 2026 berdasarkan attestasi BDO Italia, dengan buffer ekuitas $8,23 miliar di atas nilai USDT yang beredar. Artinya, secara nominal cadangan Tether melebihi kewajiban yang harus ditanggung.
Yang perlu dicermati adalah komposisinya. Sebagian besar cadangan USDT memang berupa Treasury AS dan instrumen repo jangka pendek, tapi portofolio Tether juga mencakup Bitcoin, emas, pinjaman beragunan, dan kategori investasi lain. Porsi non-Treasury ini membawa risiko harga pasar: jika nilai Bitcoin atau emas jatuh signifikan dalam waktu bersamaan dengan gelombang redemption besar, buffer ekuitas yang ada menjadi bantalan pertama yang tergerus. Ini bukan skenario yang sudah pernah terjadi, tapi secara struktural ini adalah risiko yang nyata.
Circle memilih pendekatan yang lebih konservatif. Cadangan USDC hampir seluruhnya terdiri dari kas dan Treasury AS jangka pendek, disimpan lewat Circle Reserve Fund yang dikelola BlackRock dan dikustodikan di BNY Mellon. Tidak ada Bitcoin, tidak ada emas, tidak ada pinjaman beragunan.
Konsekuensi dari kesederhanaan ini: cadangan USDC lebih mudah diverifikasi. Circle mempublikasikan pembaruan cadangan setiap minggu, dengan atestasi bulanan dari Deloitte. Pemegang USDC bisa melihat komposisi spesifik aset yang menopang tokennya hampir secara real-time, sesuatu yang tidak bisa dilakukan pemegang USDT dengan tingkat granularitas yang sama.
Kelemahan model ini juga sudah terbukti. Pada Maret 2023, Circle mengungkapkan bahwa $3,3 miliar cadangan USDC tersimpan di Silicon Valley Bank yang baru saja dibekukan regulator. USDC turun ke $0,87 sebelum pulih dalam 48 jam setelah pemerintah AS menjamin simpanan nasabah SVB. Cadangannya konservatif, tapi konsentrasi di satu bank menciptakan risiko yang tidak terduga.
Transparansi adalah dimensi yang sering diremehkan ketika membandingkan dua stablecoin ini, padahal ini adalah fondasi dari kepercayaan terhadap sebuah peg.
Circle mempublikasikan atestasi bulanan dari Deloitte, salah satu firma akuntansi Big Four. Ini bukan audit penuh atas laporan keuangan perusahaan, tapi cukup untuk memverifikasi bahwa cadangan yang diklaim memang ada dan melebihi USDC yang beredar pada tanggal tertentu. Pemegang USDC juga bisa melihat nama bank kustodian dan komposisi aset spesifik lewat halaman transparansi Circle.
Tether mempublikasikan atestasi kuartalan dari BDO Italia, sebuah firma audit internasional. Angka agregat tersedia di dashboard transparansi Tether, termasuk total aset dan kategori cadangan secara garis besar. Yang belum pernah diterbitkan Tether adalah audit keuangan penuh, yaitu pemeriksaan menyeluruh atas kontrol internal dan operasional perusahaan. Pada Maret 2026, Tether mengumumkan keterlibatan auditor Big Four untuk keperluan ini, tapi hasilnya belum dirilis per saat artikel ini ditulis.
Perbedaan praktisnya begini: pemegang USDC bisa melihat CUSIP spesifik dari Treasury yang menopang tokennya. Pemegang USDT melihat total kategori cadangan yang diperbarui setiap kuartal. Keduanya bukan nol, tapi jarak di antara keduanya cukup nyata.
Konteks regulasi global juga mulai memengaruhi posisi keduanya. Di Amerika Serikat, GENIUS Act yang disahkan pada 2026 mewajibkan penerbit stablecoin yang melayani nasabah AS untuk memegang cadangan penuh dalam bentuk kas atau aset likuid berkualitas tinggi, serta tunduk pada pengawasan federal seperti bank. Circle sudah memenuhi persyaratan ini. Tether, yang beroperasi dari El Salvador dan Kepulauan Virgin Britania, mengumumkan USAt, stablecoin terpisah yang dirancang khusus untuk memenuhi regulasi AS, dengan tenggat kepatuhan hingga 2028. Untuk trader Indonesia, ini bukan peraturan yang langsung berlaku, tapi arah regulasi global ini memberi sinyal soal siapa yang sedang membangun fondasi jangka panjang yang lebih kokoh.
Keduanya pernah menyimpang dari $1, dan keduanya pulih. Tapi konteks di balik setiap kejadian itu berbeda.
USDT pernah turun ke sekitar $0,88 pada Oktober 2018 ketika beredar rumor soal Tether dan bursa afiliasinya. Redemption tetap berjalan dan harga pulih dalam hitungan hari. Pada Agustus 2023, USDT sempat diperdagangkan pada diskon sekitar 2% akibat aksi jual besar-besaran lebih dari $500 juta di berbagai bursa besar dalam waktu singkat. Keduanya bersifat sementara dan tidak meninggalkan kerugian permanen bagi pemegang jangka panjang.
USDC mengalami depeg paling signifikan di Maret 2023, turun ke $0,87 karena eksposur cadangan ke SVB. Ini adalah skenario cadangan bermasalah yang nyata, bukan sekadar rumor. Pemulihannya bergantung pada keputusan regulator AS, bukan pada mekanisme internal Circle.
Yang perlu dicatat: tidak ada dari keduanya yang mengalami kegagalan permanen seperti UST. Keduanya adalah stablecoin fiat-backed dengan cadangan yang sesungguhnya ada. Perbedaannya ada di komposisi cadangan dan jalur risiko yang masing-masing lebih rentan terhadapnya.
Jawabannya bergantung pada apa yang kamu anggap lebih penting.
USDT adalah pilihan yang lebih praktis untuk sebagian besar kebutuhan trading sehari-hari. Dengan volume harian sekitar $55 miliar per data Bybit pada September 2026, USDT memiliki pasangan trading yang jauh lebih dalam di hampir semua bursa global. Spread lebih kecil, eksekusi lebih mudah, dan pasangan USDT tersedia untuk hampir semua aset kripto yang diperdagangkan secara aktif. Untuk trader yang sering masuk dan keluar posisi, ini perbedaan yang terasa langsung.
USDC lebih mudah diverifikasi. Jika kamu menyimpan dana dalam jumlah besar untuk jangka waktu lebih panjang dan ingin bisa memeriksa sendiri kondisi cadangan yang menopangnya, USDC menawarkan tingkat transparansi yang lebih tinggi saat ini. Kamu bisa membaca laporan Deloitte setiap bulan dan melihat komposisi aset spesifiknya, bukan hanya angka agregat.
Satu hal yang berlaku untuk keduanya: jangan menyimpan seluruh dana di satu stablecoin jika jumlahnya signifikan. Risiko keduanya berbeda, tapi keduanya tetap punya risiko. Distribusi antara USDT dan USDC bukan paranoia, melainkan manajemen risiko yang wajar.
Bagi trader yang ingin memantau pergerakan harga keduanya secara real-time, Bybit Indonesia (bybit.id) menyediakan halaman harga coin USDT dan harga USDC secara live sebagai referensi, di platform spot trading yang terdaftar resmi di OJK.
USDT dan USDC sama-sama dolar digital yang bekerja dengan baik untuk sebagian besar kebutuhan trading. Perbedaannya baru terasa ketika pasar sedang stres, ketika kamu ingin memverifikasi cadangannya, atau ketika jumlah yang kamu simpan sudah cukup besar untuk membuat perbedaan komposisi cadangan menjadi relevan.
Beberapa hal yang layak diingat sebelum memilih:
Periksa volume pasangan trading yang tersedia untuk aset yang biasa kamu perdagangkan. USDT umumnya lebih dalam.
Baca halaman transparansi masing-masing penerbit setidaknya sekali. Circle dan Tether keduanya mempublikasikan data cadangan secara publik.
Jika jumlah yang disimpan besar, pertimbangkan distribusi antara keduanya daripada menaruh semuanya di satu pilihan.
Pahami bahwa atestasi bukan audit penuh. Keduanya belum pernah menyelesaikan audit keuangan komprehensif atas seluruh operasi perusahaan.
Tidak ada stablecoin yang bebas risiko. Yang bisa kamu lakukan adalah memahami risiko mana yang lebih kamu toleransi, lalu memilih berdasarkan itu.