Ringkasan AI
Tampilkan Lebih Banyak
Pahami konten artikel dengan cepat dan ukur sentimen pasar hanya dalam 30 detik!
Pada Mei 2021, harga Bitcoin sempat anjlok lebih dari 40 persen hanya dalam hitungan minggu, dipicu kombinasi sentimen negatif dan tindakan keras pemerintah China terhadap aktivitas penambangan crypto. Dalam satu hari saja, ratusan ribu posisi trading leverage terlikuidasi paksa, mempercepat penurunan harga lebih jauh. Pergerakan seperti ini bukan kejadian langka di pasar crypto, melainkan pola yang berulang dengan penjelasan teknis yang cukup jelas. Bagi pemula, fluktuasi harga yang tajam dalam waktu singkat sering terasa membingungkan, bahkan mencurigakan, padahal ada beberapa faktor struktural yang membuat crypto memang lebih volatile dibanding aset keuangan konvensional.
Volatilitas adalah ukuran seberapa besar dan seberapa cepat harga suatu aset berubah dalam periode waktu tertentu. Semakin tinggi volatilitas, semakin lebar dan semakin cepat pergerakan harganya, baik naik maupun turun. Pasar crypto dikenal punya volatilitas yang jauh lebih tinggi dibanding saham blue chip atau mata uang fiat utama seperti dolar AS atau rupiah.
Ini bukan kebetulan. Volatilitas tinggi muncul dari kombinasi karakteristik dasar pasar crypto itu sendiri, mulai dari ukuran pasar yang relatif masih kecil dibanding pasar keuangan global, hingga cara pasar ini beroperasi tanpa jeda waktu sama sekali.
Ada beberapa faktor yang saling tumpang tindih dan sering terjadi bersamaan saat harga crypto bergerak tajam.
Likuiditas mengacu pada seberapa mudah suatu aset bisa dibeli atau dijual tanpa menggerakkan harganya secara signifikan. Dibandingkan pasar saham global yang nilainya mencapai puluhan triliun dolar, total kapitalisasi pasar crypto masih jauh lebih kecil. Artinya, satu transaksi besar dari investor institusional atau pemegang aset dalam jumlah besar (sering disebut whale) bisa menggerakkan harga jauh lebih signifikan dibanding transaksi serupa di pasar saham.
Saat likuiditas tipis, order jual atau beli dalam jumlah besar tidak terserap dengan mulus oleh pasar. Hasilnya, harga bisa melompat tajam hanya karena satu atau dua transaksi besar, bukan karena ada perubahan fundamental pada aset itu sendiri.
Pasar crypto sangat reaktif terhadap berita, baik itu kebijakan regulasi, pernyataan tokoh berpengaruh, maupun perkembangan ekonomi makro global. Karena belum banyak metrik fundamental yang bisa dipakai untuk menilai "harga wajar" sebuah aset crypto seperti laporan laba perusahaan di pasar saham, harga crypto jauh lebih mudah bergerak murni berdasarkan persepsi dan emosi pasar.
Contohnya, pelarangan aktivitas trading crypto di China pada 2021 sempat membuat harga Bitcoin anjlok lebih dari 50 persen hanya dalam hitungan minggu. Sebaliknya, persetujuan produk investasi Bitcoin spot ETF di Amerika Serikat pada awal 2024 mendorong rally harga yang signifikan. Berita semacam ini menyebar cepat di media sosial dan forum trading, memicu reaksi berantai dari trader yang ikut membeli atau menjual berdasarkan sentimen, bukan analisis mendalam.
Salah satu faktor yang sering memperbesar pergerakan harga harian adalah penggunaan leverage di pasar derivatif. Leverage memungkinkan trader membuka posisi jauh lebih besar dari modal yang sebenarnya mereka miliki. Masalahnya, posisi dengan leverage tinggi bisa terkena likuidasi otomatis ketika harga bergerak melawan posisi tersebut melewati batas tertentu.
Likuidasi ini bekerja seperti efek domino. Saat harga mulai turun dan memicu likuidasi sejumlah posisi long, penjualan paksa dari likuidasi tersebut menambah tekanan jual di pasar, yang kemudian memicu likuidasi posisi lain, dan seterusnya. Pada beberapa peristiwa crash besar, nilai likuidasi yang tercatat dalam 24 jam bisa mencapai miliaran dolar, jauh memperbesar skala penurunan dibanding yang akan terjadi tanpa adanya leverage sama sekali.
Pasar crypto beroperasi lintas negara tanpa otoritas pusat tunggal, sehingga keputusan regulasi dari satu negara saja bisa berdampak ke harga global. Kebijakan dari regulator besar seperti SEC di Amerika Serikat, atau perkembangan regulasi MiCA di Eropa, sering memicu reaksi pasar yang cepat dan tajam. Di Indonesia sendiri, perkembangan kebijakan dari OJK (yang kini menaungi Bappebti sejak peralihan kewenangan pada 2023) turut memengaruhi sentimen investor lokal terhadap aset crypto.
Karena belum ada kerangka regulasi global yang seragam, ketidakpastian ini menjadi salah satu sumber volatilitas yang terus berulang dari waktu ke waktu.
Volatilitas crypto secara signifikan lebih tinggi dibanding pasar saham maupun forex. Salah satu alasan utamanya adalah jam operasional. Pasar saham hanya beroperasi pada jam bursa tertentu, sehingga ada jeda waktu yang memberi ruang bagi informasi baru untuk diserap pasar secara bertahap. Pasar crypto, sebaliknya, beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa jeda sama sekali.
Ini berarti reaksi terhadap berita atau peristiwa besar bisa langsung tercermin di harga kapan saja, termasuk tengah malam atau akhir pekan, saat sebagian besar trader ritel sedang tidak memantau pasar secara aktif. Kombinasi antara likuiditas yang lebih tipis dan jam pasar yang tidak pernah berhenti inilah yang membuat pergerakan harga crypto jauh lebih tajam dibanding aset keuangan tradisional dalam rentang waktu yang sama.
Memahami bahwa volatilitas adalah karakteristik bawaan pasar crypto, bukan tanda adanya manipulasi atau sesuatu yang harus selalu dihindari, adalah langkah pertama yang penting. Beberapa hal praktis yang bisa membantu pemula menyikapi pergerakan harga yang tajam:
Memahami bahwa pergerakan harga jangka pendek tidak selalu mencerminkan nilai jangka panjang suatu aset. Tidak menggunakan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan pokok untuk membeli aset crypto. Menghindari keputusan impulsif saat harga bergerak tajam dalam satu arah, baik naik maupun turun. Memahami mekanisme likuidasi sebelum mencoba produk trading dengan leverage.
Bagi pemula yang merasa lelah memantau pergerakan harga setiap jam namun tetap ingin terlibat di pasar crypto, ada pendekatan yang lebih tenang dibanding trading aktif. Bybit Indonesia menyediakan produk Earn yang memungkinkan pengguna mendapatkan imbal hasil dari aset crypto yang dimiliki tanpa harus terus-menerus memantau fluktuasi harga harian, sebuah opsi yang lebih sesuai untuk mereka yang belum nyaman dengan ritme trading aktif.
Pergerakan harga crypto yang tajam dalam sehari bukan anomali, melainkan konsekuensi langsung dari likuiditas pasar yang masih berkembang, sensitivitas terhadap berita, efek domino dari likuidasi leverage, dan ketidakpastian regulasi yang belum sepenuhnya seragam secara global. Memahami mekanisme di balik volatilitas ini tidak menghilangkan risikonya, tapi memberi konteks yang membuat pergerakan harga terasa lebih masuk akal, bukan sekadar kejutan yang datang tanpa alasan.